Fanya adalah anak yang mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi pada 2 bulan yang lalu. Sampai sekarang, keadaan Fanya belum pulih. Teman-temannya turut prihatin. Mereka menemani Fanya. Namun, ada satu anak yang tidak suka dengan Fanya. Ooow … siapakah itu?

Dialah Kezia. Anak yang mempunyai prestasi menulis. Namun, gelar prestasi menulis itu tidak pada Kezia lagi. Gelar itu didapatkan Fanya. Makanya, Kezia sangat membenci Fanya.

Sehari-hari, Fanya ditemani oleh Finya, saudara kembar Fanya. Finya selalu membantu Fanya. Finya sering membawa Fanya kemana pun menggunakan kursi roda. Fanya bersyukur mempunyai saudara kembar seperti Finya.

Suatu hari ….

Fanya sedang membaca. Disebelahnya, ada Finya. Fanya dan Finya membaca buku yang sama. Waaah … saudara kembar betulan nih! Kezia yang melihat itu, sangat iri. Aku iri sama Fanya. Aku kan enggak punya saudara kembar. Tapi, aku masih punya Kizea yang wajahnya mirip dengan aku, kata Kezia. Kizea adalah saudara sepupunya. Namun, wajah Kizea sangat mirip dengan wajah Kezia. Mereka seperti saudara kembar.

Hari Selasa ….

“Hai, Fanya. Ada pengumuman baru! Aku ajak kamu, yuk!” ajak Finya. Finya mendorong pelan kursi roda Fanya. Fanya terlihat heran. Hm … ada apa, ya? tanya Fanya heran. Finya berhenti sampai di depan mading.

“Ini yang kumaksud!” seru Finya girang. Mata Fanya berbinar-binar. Lomba menulis! Ya, Fanya pasti ikut. Waw, temanya bebas. Fanya akan menulis dengan tema … aaah, rahasia dong.

“Kamu mau ikut? Hahaha … mana mungkin kamu bisa menang? Akulah pemenangnya!” seru Kezia sombong.

“Emangnya cuman kamu? Bisa aja pemenangnya Fanya,” bela Finya. Kezia terdiam. Dia takut jika berbicara dengan Finya. Fanya tersenyum. Kezia beranjak pergi. “Ayo, Fanya! Kita harus segera pergi,” bisik Finya.

Fanya mengangguk. Finya mendorong kursi roda Fanya dengan pelan. Sampai dikelas, Fanya dan Finya disambut oleh teman-teman. Fanya langsung menuju mejanya.

Pulang sekolah, Fanya membuka komputer. Dia mengetik cerita dengan serius. Tidak sampai 2 jam, cerita Fanya selesai. Dia mengecek kembali tulisannya. Setelah tidak ada yang berantakkan, dia menge-print cerita itu.

Malam hari, Fanya bercerita. “Ma … Pa …. Sekolahku akan ngadain lomba menulis. AKu ikuan lho,” kata Fanya.

“Waaah … Fanya hebat dong!” puji mama. Fanya tersenyum. Selesai makan malam, Fanya gosok gigi, lalu tidur.

Keesokan paginya ….

Fanya segera bangun, pake baju, sarapan, dan berangkat. Disekolahan, Fanya menyerahkan tulisannya ke Bu Salsa, kepala sekolah. Bu Salsa tersenyum. Kata Bu Salsa, pengumuman dua hari lagi. Wah, suatu impian buat Fanya!

Dua hari kemudian ….

Dimading, ditempel pengumuman pemenang lomba menulis. Finya melonjak kaget. 1: Fanya Alfa Nadya Putri. 2: Finya Alifah Nadya Saputri. 3: Kezia Azzahra. Waaa …. Fanya juara 1!!!

Fanya kaget sekali. Dan seterusnya, Fanya , menulis hingga ada satu buku yang akan terbit. Wah! Never Give Up, ya, Fanya! Teruslah berusaha!

Iklan