Bunga adalah anak yang miskin. Setiap hari, dia diejek oleh teman-temannya. Hanya sedikit yang mau berteman dengan Bunga, diantaranya Cleva, Jihan, Keysa, Putri, Vitri, dan Sassy. Keenam sahabat Bunga itu anak orang kaya. Tapi, mereka tak sombong. Mereka tetap ramah dan baik hati.

Suatu hari ….

CPYAAAR! Vas bunga Bu Ramyati, wali kelas mereka, pecah. Yang memecahkan adalah Via. Tapi, Via menuduh Bunga yang memecahkannya. “Kamu kenapa sih, mecahin vas bunga Bu Ramyati!” seru Via.

“Bukan aku!” seru Bunga.

“Iya! Kamu yang memecahkannya Bunga! Kamu iri ya, sama kami?” seru Clarissa. Semua temannya meninggalkan. Yang didalam kelas hanya Bunga dan Via. Mereka membersihkan pecahan vas bunga itu. Setelah selesai, Via bicara dengan Bunga.

“Kamu tahu? Kamu itu nakal!” seru Via. Via meninggalkan Bunga. Bunga menunduk sedih. Dia tidak tahu kenapa semua temannya bersikap seperti itu. Apa salahku? tanya Bunga dalam hati.

Siang itu, Bunga berjalan agak cepat. Dia hauuus sekali. Dia berharap, dirumah sudah ada air putih dingin. Ya, benar saja! Ketika Bunga memasukki rumah, Ibunya menyambut dengan segelas air putih dingin. Ibu mengusap kepala Bunga. “Ckckck … kamu haus sekali, ya, Nak?” tanya Ibu.

Bunga tersenyum sambil mengangguk. Bunga memasukki kamarnya. Kamarnya terdiri atas satu kasur dan beberapa barang lainnya. Bunga tidur jam 21.00 WIB dan bangun jam 05.00 WIB. Dia menyempatkan shalat Subuh dulu bersama Ibu, Ayah, dan Salsa, adiknya.

Bunga mengambil air wudhu, beranjak shalat Zuhur. Lalu, dia shalat dengan khusyuk. Ayah tidak ada dirumah. Ayah sedang di sawah. Ayah Bunga bekerja sebagai buruh tani. Selesai shalat, Bunga tidur siang.

Pukul 15.30, menjelang sore, Bunga terbangun. Dia membasuh mukanya dengan air. Selagi ada waktu, Bunga shalat Ashar. Dia selalu khusyuk dalam melaksanakan shalat. Selesai shalat, Bunga mandi.

Selesai mandi, Bunga memakai rok terusan bergambar kupu-kupu dengan bunga, berwarna ungu muda. Dia meminta izin kepada Ibu untuk keluar rumah, bersama Salsa. Di luar, Bunga memandangi masjidnya, Masjid Al-Ikhram. Banyak anak-anak mengaji.  Bunga dan Salsa sebenarnya ingin mengaji. Jangankan mengaji, biaya mengaji saja sudah mahal.

Mereka bertemu dengan Tiara, teman Bunga yang senasib dengan Bunga. “Hai, Tiara! Mau kemana?” sapa Bunga.

Tiara kembali menyapa. “Hai juga, Bunga. Aku mau main sama kamu! Main, yuk! Mainan ular tangga. Aku udah bawa, nih! Bentar, aku panggil Caira dulu ya! Cairaaa …!” seru Tiara. Ciara adalah adik Tiara.

“Ya, Kaaaak …,” sahut Caira.

“Main, yuk!” ajak Tiara. Caira mengangguk. Mereka bermain bersama, hingga Magrib tiba. Mereka shalat dimasjid bersama-sama.

Keesokan harinya ….

Tiara dan Bunga berjalan menuju sekolah. Mereka bercanda tawa. Mereka ada dipinggir trotoar. Tiba-tiba, Bunga melihat Via dan Sabila bercanda di jalan raya. Mereka tak memedulikan ada banyak kendaraan yang mengancam nyawa mereka.

Tiba-tiba, mobil datang dari arah kiri. Via dan Sabila berteriak. Bunga berlari dan berteriak. “AWAAAASSS …!” teriak Bunga. Bunga tertabrak! Bapak yang menabrak tadi merasa bersalah. Bapak itu ternyata bernama Pak Dani. Pak Dani membawa Bunga ke rumah sakit.

Ibu, Ayah, dan Salsa menuju rumah sakit, ke kamar Bunga. “Kak Bunga … Kak Bunga …. Bangun, Kak!” seru Salsa sambil mengguncang-guncangkan tubuh Bunga.

Pak Dokter masuk ke kamar Bunga. Kata Pak Dokter, Bunga baik-baik saja. Alhamdulillah ….

Setelah Bunga sembuh, semua teman Bunga meminta maaf kepada Bunga. “Maafkan kami, Bunga!” seru teman-teman sekelas Bunga.

Bunga tersenyum. “Aaah … enggak apa, kok!” kata Bunga. Bunga senang sekali karena mempunyai teman yang banyak sekarang.

Be happy, ya, Bunga. Berbahagialah bersama teman-temanmu.

Iklan